Sambutan Kepala
Sambutan Kepala
Ahmad Suhail Al-Anshory, M.Ed.

Ahmad Suhail Al-Anshory, M.Ed. lahir di Lampung pada 13 Desember 1980. Sejak menempuh pendidikan hingga mengabdikan diri di dunia pendidikan Islam, beliau meyakini bahwa pendidikan merupakan jalan strategis untuk membentuk generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, serta mampu memberikan manfaat bagi agama, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan. Keyakinan tersebut menjadi fondasi dalam setiap langkah pengabdian, baik sebagai pendidik, pengelola pendidikan, penulis, maupun penggerak berbagai inovasi di lingkungan pendidikan.

Perjalanan pendidikannya diawali di tanah kelahirannya, Lampung, melalui pendidikan dasar dan menengah pertama. Semangat menuntut ilmu kemudian membawanya merantau ke Pulau Jawa untuk melanjutkan pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor. Di lembaga tersebut beliau menempuh pendidikan Kulliyyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI) dan lulus pada tahun 2001. Masa pendidikan di Gontor menjadi titik penting dalam pembentukan karakter, kedisiplinan, jiwa kepemimpinan, wawasan keislaman, serta semangat pengabdian yang terus melekat dalam perjalanan hidupnya.

Kehausan akan ilmu tidak berhenti setelah menyelesaikan pendidikan KMI. Beliau melanjutkan studi sarjana di Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor, yang kini dikenal sebagai Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, dan berhasil meraih gelar Sarjana (S-1) pada tahun 2006. Selanjutnya, beliau memperoleh kesempatan memperluas wawasan akademik melalui studi magister di International Islamic University Malaysia (IIUM). Pada tahun 2013, beliau menyelesaikan pendidikan Master of Education (M.Ed.), yang semakin memperkaya perspektifnya mengenai kepemimpinan pendidikan, inovasi pembelajaran, serta pengembangan institusi pendidikan Islam dalam konteks global.

Pengalaman mengajarnya ditempa melalui pengabdian di berbagai lembaga pendidikan, baik di Indonesia maupun Malaysia. Kariernya dimulai sebagai tenaga pengajar di KMI Gontor Darul Qiyam Magelang pada periode 2001–2002. Selanjutnya beliau mengabdi di KMI Darussalam Gontor Ponorogo pada 2003–2008, tempat beliau memperdalam pengalaman dalam sistem pendidikan pesantren modern yang memadukan pendidikan agama, karakter, dan kepemimpinan. Kiprah internasional kemudian berlanjut ketika beliau menjadi pendidik di Sekolah Islam Adni, Malaysia pada 2011–2014. Pada tahun 2015, beliau juga pernah bergabung dengan Pusat Bahasa Arab Negeri Selangor (PBAS), Malaysia, sebuah institusi di bawah seliaan Jabatan Agama Islam Selangor (JAIS) yang berfungsi melatih guru bahasa Arab dan mengendalikan program kebahasaan.

Selama menempuh studi dan berkarier di Malaysia, Ahmad Suhail Al-Anshory aktif berkontribusi dalam pembelajaran bahasa Arab melalui berbagai kegiatan bersama Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Cabang Malaysia. Bersama Ust. Dedek Febrian, MALT dan Ust. Dr. Annur Fajri, dan rekan-rekan lainnya, beliau diundang untuk menjadi pemateri Bengkel Bahasa Arab di berbagai sekolah Islam sebagai wadah berbagi pengalaman serta memperkenalkan metode pembelajaran bahasa Arab yang komunikatif, aktif, dan menyenangkan bagi guru maupun siswa.

Melalui kegiatan yang menjangkau Selangor, Melaka, Negeri Sembilan, Johor, Perak, hingga Wilayah Persekutuan, beliau memperoleh pengalaman intelektual dan spiritual yang memperkaya wawasan tentang pembelajaran bahasa Arab. Interaksi dengan berbagai kalangan pendidik semakin mengukuhkan keyakinannya bahwa bahasa Arab merupakan kunci untuk memahami khazanah keilmuan Islam, sekaligus menanamkan nilai kolaborasi, ukhuwah, dan inovasi pembelajaran yang kemudian terus dikembangkan dalam pengabdiannya di Indonesia.

Berbekal pengalaman tersebut, Ahmad Suhail Al-Anshory, M.Ed. kemudian melanjutkan pengabdiannya di KMI/MA Diniyyah Putri Lampung. Di lembaga ini, beliau aktif mengembangkan berbagai program strategis yang berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan, penguatan budaya literasi, inovasi kurikulum, digitalisasi layanan pendidikan, serta pembinaan karakter santriwati. Bagi beliau, lembaga pendidikan harus terus bergerak mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas keislaman yang menjadi ruh pendidikan.

Kecintaan beliau terhadap Al-Qur’an tercermin dalam kebiasaan mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an secara rutin serta mengembangkan berbagai media Tadabbur Al-Qur’an sebagai sarana mendekatkan masyarakat kepada nilai-nilai ilahi. Beliau meyakini bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga dipahami, direnungkan, dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, berbagai media dakwah dan edukasi terus dikembangkan agar pesan-pesan Al-Qur’an dapat diterima oleh masyarakat dengan cara yang lebih mudah dipahami dan relevan dengan perkembangan zaman.

Di luar aktivitas mengajar dan mengelola pendidikan, beliau memiliki minat yang besar terhadap dunia literasi dan pengembangan media edukatif. Kesehariannya diisi dengan membaca, menulis berita dan artikel, membuat konten pendidikan, mengikuti webinar, mendengarkan ceramah, serta menikmati film-film pendek yang sarat dengan nilai-nilai moral. Bidang pendidikan, bahasa, sastra, literasi Islam, dan pengembangan karakter menjadi fokus utama kajian yang terus beliau dalami sebagai bagian dari upaya membangun peradaban berbasis ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keislaman.

Sebagai penulis, Ahmad Suhail Al-Anshory juga telah melahirkan berbagai karya di bidang pendidikan bahasa, pembelajaran, dan literasi Islam. Di antara karya beliau adalah Buku Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Kelas 1, 2, dan 3 KMI Darussalam Gontor, yang disusun bersama Drs. Nasrullah dan Taufiq Affandi, M.Sc. Saat bertugas di Pusat Bahasa Arab Negeri Selangor, Malaysia, beliau bersama tim menyusun Al-Al’ab At-Ta’limiyyah (Kumpulan Game Pembelajaran Bahasa Arab) serta Al-Hiwar Al-Mufarragh, yang menjadi media pembelajaran bahasa Arab yang komunikatif dan interaktif. Beliau juga menulis Duruusul Lughatil-‘Arabiyyah lil-Banat, sebuah buku bahasa Arab yang diperuntukkan bagi santriwati, serta Pedoman Penulisan Bahasa Arab “Al-Imla'” bersama Ust. Nazaruddin, S.Pd., sebagai panduan pembelajaran kaidah penulisan bahasa Arab. 

Kecintaan Ahmad Suhail Al-Anshory terhadap dunia literasi tidak hanya diwujudkan melalui penulisan buku-buku pendidikan, tetapi juga melalui karya ilmiah dan sastra. Sejumlah tulisan beliau terhimpun dalam berbagai buku antologi cerpen dan antologi puisi yang menjadi ruang ekspresi gagasan, nilai-nilai kemanusiaan, serta refleksi kehidupan. Di ranah akademik, bersama Ahmad Faizudin dan Tumi An-Nuaimy, beliau menulis artikel berjudul “Exploring Teachers’ Creative Teaching Strategies in Teaching Arabic as a Foreign Language at a Private Islamic Secondary School in Malaysia”. Selain itu, bersama Prof. Dr. Hairuddin, beliau juga menghasilkan artikel “The Gap between Primary and Secondary School Teacher Followership Styles at Adni Islamic School, Malaysia”, yang dipublikasikan dalam IIUM Journal of Educational Studies. Beragam karya tersebut menunjukkan keluasan minat beliau dalam bidang pendidikan, bahasa, dan kepemimpinan, sekaligus mencerminkan keyakinannya bahwa menulis merupakan salah satu bentuk pengabdian intelektual yang mampu melampaui ruang dan waktu. Bagi beliau, setiap tulisan bukan sekadar rangkaian kata, melainkan jejak pemikiran yang diharapkan dapat menginspirasi, memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, dan memberikan manfaat bagi generasi yang akan datang

Sepanjang perjalanan pengabdiannya, Ahmad Suhail Al-Anshory, M.Ed. dikenal sebagai sosok yang aktif melahirkan berbagai gagasan inovatif. Beliau merupakan penggagas Saluran Tadabbur Al-Qur’an, Kantin Jujur, Majalah Maidah, Mural Edukatif, serta menjadi salah satu kontributor dalam penyusunan Buku Bestari. Beliau juga turut berperan dalam mempertahankan Akreditasi A lembaga, menggagas Kurikulum BERIMAN, mendukung penyelenggaraan Jamdun Muslim, serta menginisiasi berbagai program pengembangan peserta didik seperti Diniyyah Mengajar, Pembekalan Calon Alumni, dan Program Pengabdian.

Komitmen beliau terhadap pengembangan kelembagaan juga diwujudkan melalui berbagai kerja sama strategis, di antaranya menjadi inisiator kerja sama dengan Al-Azhar Mesir, penggagas Digitalisasi Perpustakaan, pendukung alumni yang melanjutkan studi ke Tiongkok, pengusul kerja sama PPKB-IU, serta dipercaya sebagai anggota Tim Adhoc Bina Adab. Berbagai inisiatif tersebut lahir dari keyakinan bahwa pendidikan yang unggul hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi, inovasi, penguatan budaya akademik, serta keberanian untuk terus melakukan pembaruan.

Visi yang terus beliau perjuangkan adalah menghadirkan peserta didik KMI/MA Diniyyah Putri Lampung yang mencintai ilmu, memiliki semangat belajar sepanjang hayat, mampu mengembangkan potensi sesuai bakat dan minatnya, serta menjadikan berbagi ilmu dan kebaikan sebagai bagian dari dakwah yang menampilkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Beliau percaya bahwa pendidikan yang berhasil bukan hanya menghasilkan lulusan yang cerdas, tetapi juga pribadi yang berkarakter, adaptif, peduli, dan siap memberikan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.

Dalam setiap langkah pengabdian, Ahmad Suhail Al-Anshory, M.Ed. senantiasa berpegang teguh pada sabda Rasulullah saw., “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.” Hadis tersebut menjadi kompas dalam menjalankan amanah sebagai pendidik dan pemimpin pendidikan. Beliau juga meyakini bahwa perubahan besar sering kali diawali dari kata-kata yang baik, nasihat yang tulus, dan inspirasi yang mampu menggerakkan hati seseorang menuju kebaikan.

Atas dasar keyakinan tersebut, beliau menjadikan motto “Menjadi pembisik yang baik untuk kehidupan yang lebih baik” sebagai semangat dalam setiap pengabdian. Melalui ilmu, keteladanan, inovasi, karya tulis, dan pelayanan pendidikan yang berorientasi pada kebermanfaatan, beliau berharap dapat terus berkontribusi dalam melahirkan generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, berwawasan global, serta mampu menjadi agen perubahan yang menghadirkan kemajuan bagi umat, bangsa, dan peradaban.

Latar Belakang Putih